Field Reflections: Stories of Community Engagement in Indonesian Borneo
by Adinugroho Purbo from YTS
Of the 365 days that the world takes to orbit the sun, we hold one day on April 22nd - Earth Day - in remembrance and appreciation of this little blue planet that we call home. The first Earth Day was in 1970, after a massive oil spill, when 20 million Americans demonstrated against the environmental toll of 150 years of industrial development. Since then, conservation has become a global priority, catalysed by the international recognition of Earth Day in 1990, and the UN Earth Summit in 1992. Yet, local communities remain the ones who have the most at stake in environmental protection. Recognising this, NGOs like Yayasan Planet Indonesia (YPI) and Yayasan Tambuhak Sinta (YTS) position themselves in supportive roles, working alongside local communities in Indonesian Borneo. Field staff have their own stories to tell: of difficult challenges and small victories that make it all worthwhile. We compiled 17 of those stories into an e-book called Field Reflections: Stories of Community Engagement in Indonesian Borneo. It is available in Indonesian and English.
These stories are the result of an ethnographic research training for field staff to improve their analytical and writing skills, funded by the University of Cambridge Social Impact Fund. Paul H. Thung led the training for YPI, while Viola Schreer trained the YTS staff. It was a follow-up on the Global Lives of Orangutans (GLO) and POKOK projects, which used anthropological methods to analyze human-orangutan relations. The training was followed by a learning exchange between YPI and YTS, in which field staff discovered that they work on similar topics and face similar challenges. The book groups these into four themes: culture and history, livelihoods, governance, capacity building and education.
The authors from YPI and YTS have a learning exchange during the joint workshop in Palangka Raya, where they made revisions to their stories.
Facilitators and communities work closely with each other and, as a result, develop strong bonds. So, when a project changes villagers’ lives for the better, or contrarily, does not go as planned or, the facilitators cannot help but empathize with them. Consequently, many of the stories are deeply personal, reflecting the genuine care they have for the communities they serve. For example, Elvina, who assisted rubber farmers to improve their livelihood through better pricing, was heartened by their dedication to the program. Even with “water levels reaching an adult’s waist”, the farmers would continue to tap rubber “while swimming in the rubber plantations.”
Many of the stories deal with sensitive issues. Mathius, for instance, talks about the rampant gold mining done by the village community he works with, which caused massive environmental degradation and affected the implementation of YTS’s program in the village. Others write about complications they faced in relation to community perceptions of conservation, cultural norms shaping social interactions, and mismanagement of funds. Encountering obstacles like these is part of field staff’s daily conservation work and can cause feelings of frustration. Ideally, such experiences, in so far as they affect programme implementation, get discussed in regular meetings within the organisation. But when written up as reflective stories, the lessons can be explored in more depth and shared with the wider world.
While Earth Day serves as a global moment to honor our planet, its protection requires the quiet, daily commitment of those on the front lines. The 17 stories in Field Reflections turn these experiences from fleeting, personal field observations into a structured, tangible record of the human side of conservation, making the book a vital outlet for advocacy. These stories reveal that successful conservation is about navigating the sensitive complexities of human relationships and trust. As the world looks toward international models for sustainable development, the raw, heartfelt insights of these program officers must be more than just anecdotes; they should be considered essential evidence. Their voices remind us that the most enduring environmental solutions are those that resonate with the lives and histories of the people who call these landscapes their home. Field Reflections is an invitation to pay attention to that.
On the last day of the workshop, YPI was given a tour of one of YTS's project sites and spared some time for leisure.
Download the book here.
This piece was also published on Yayasan Tambuhak Sinta (YTS)’s website as part of this collaboration: https://tambuhaksinta.com/post/field-reflections-stories-of-community-engagement-in-indonesian-borneo/
Refleksi Lapangan: Kisah-Kisah Pendampingan Masyarakat di Kalimantan
Adinugroho Purbo, YTS
Dari 365 hari perjalanan bumi mengorbit matahari, kita menetapkan satu hari pada tanggal 22 April—Hari Bumi—sebagai momen untuk mengenang dan menghargai planet biru kecil yang merupakan rumah kita semua. Hari Bumi pertama kali dicanangkan pada tahun 1970 setelah terjadinya tumpahan minyak besar-besaran, di mana 20 juta warga Amerika berdemonstrasi menentang dampak lingkungan dari 150 tahun pembangunan industri. Sejak saat itu, konservasi telah menjadi prioritas global, yang dikatalisasi oleh pengakuan internasional terhadap Hari Bumi pada tahun 1990 dan KTT Bumi PBB pada tahun 1992. Namun, masyarakat setempat tetaplah pihak yang paling berkepentingan dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan. Menyadari hal ini, LSM seperti Yayasan Planet Indonesia (YPI) dan Yayasan Tambuhak Sinta (YTS) menempatkan diri dalam peran pendukung, bekerja berdampingan dengan komunitas lokal di Kalimantan. Para staf lapangan pun mempunyai kisah mereka sendiri: tentang tantangan sulit dan kemenangan-kemenangan kecil yang membuat semua jerih payah tersebut lebih bermakna. Kami merangkum 17 dari kisah-kisah tersebut ke dalam sebuah e-book berjudul Refleksi Lapangan: Kisah-Kisah Pendampingan Masyarakat di Kalimantan, Indonesia. Buku ini tersedia dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Cerita-cerita ini merupakan hasil dari pelatihan riset etnografi bagi staf lapangan untuk meningkatkan keterampilan analisis dan menulis mereka, yang didanai oleh University of Cambridge Social Impact Fund. Paul H. Thung memimpin pelatihan untuk YPI, sementara Viola Schreer yang melatih staf YTS. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari proyek Global Lives of Orangutans (GLO) dan POKOK, yang menggunakan metode antropologi untuk menganalisis hubungan manusia dan orangutan. Pelatihan ini dilanjutkan dengan pertukaran pembelajaran antara YPI dan YTS, di mana para staf lapangan menemukan bahwa mereka mengerjakan topik yang serupa dan menghadapi tantangan yang senada. Buku ini mengelompokkan kisah-kisah tersebut ke dalam empat tema utama: budaya dan sejarah,mata pencaharian,tata kelola, peningkatan kapasitas dan pendidikan.
Para penulis dari YPI dan YTS mengikuti sesi pertukaran pembelajaran dalam lokakarya bersama di Palangka Raya, di mana mereka melakukan revisi terhadap cerita-cerita yang telah ditulis.
Para fasilitator dan masyarakat bekerja sama dengan sangat dekat sehingga membangun ikatan yang kuat. Jadi, ketika sebuah proyek mengubah hidup penduduk desa menjadi lebih baik—atau sebaliknya, tidak berjalan sesuai rencana—para fasilitator pasti ikut berempati. Akibatnya, banyak dari cerita tersebut bersifat sangat pribadi, mencerminkan kepedulian tulus yang mereka miliki bagi komunitas yang mereka layani. Sebagai contoh, Elvina, yang membantu petani karet meningkatkan taraf hidup melalui harga karet yang lebih baik, merasa sangat tersentuh oleh dedikasi para petani terhadap program tersebut. Bahkan ketika "ketinggian air mencapai pinggang orang dewasa", para petani tetap terus menyadap karet "sambil berenang di perkebunan karet."
Banyak pula cerita yang membahas isu-isu sensitif. Mathius, misalnya, berkisah tentang maraknya pertambangan emas yang dilakukan oleh komunitas desa tempat ia bekerja, yang menyebabkan degradasi lingkungan besar-besaran dan memengaruhi pelaksanaan program YTS di desa tersebut. Penulis lain bercerita tentang komplikasi yang mereka hadapi terkait persepsi masyarakat terhadap konservasi, norma budaya yang membentuk interaksi sosial, hingga salah kelola dana. Menghadapi hambatan seperti ini adalah bagian dari pekerjaan konservasi harian staf lapangan dan terkadang dapat menimbulkan rasa frustrasi. Idealnya, pengalaman-pengalaman semacam itu dibahas dalam pertemuan rutin organisasi. Namun, ketika dituangkan dalam bentuk cerita reflektif, pelajaran-pelajaran tersebut dapat dieksplorasi lebih mendalam dan dibagikan kepada khalayak yang lebih luas.
Meskipun Hari Bumi berfungsi sebagai momen global untuk menghormati planet kita, perlindungannya membutuhkan komitmen harian dari mereka yang berada di garis depan. Ke-17 cerita dalam Refleksi Lapangan mengubah pengalaman tersebut dari sekadar pengamatan lapangan pribadi sekilas menjadi catatan yang terstruktur dan nyata tentang sisi manusiawi dari konservasi. Cerita-cerita ini mengungkapkan bahwa konservasi yang sukses adalah tentang menavigasi kompleksitas sensitif dari hubungan manusia dan kepercayaan. Saat dunia mencari model internasional untuk pembangunan berkelanjutan, wawasan yang mentah dan tulus dari para petugas program ini harus dianggap sebagai bukti penting, bukan sekadar anekdot. Suara mereka mengingatkan kita bahwa solusi lingkungan yang paling bertahan lama adalah solusi yang beresonansi dengan kehidupan dan sejarah orang-orang yang menjaga bentang alam tersebut. Refleksi Lapangan adalah sebuah undangan untuk menaruh perhatian pada hal tersebut.
Pada hari terakhir lokakarya, tim YPI diajak mengunjungi salah satu lokasi program YTS dan menyempatkan waktu untuk bersantai.
Unduh bukunya di sini
Tulisan ini juga dipublikasikan di situs Yayasan Tambuhak Sinta (YTS) sebagai bagian dari kolaborasi ini: https://tambuhaksinta.com/id/post/field-reflections-stories-of-community-engagement-in-indonesian-borneo/